Hotline: (021) 31902885 ext 8104/ 8110

WPML not installed and activated.

C_TFIN52_65 C2050-723 C2090-612 C2180-400 C4040-332 C4060-156 C4090-451 CCA-410 CLO-001 CSM-001
vitreoretina

Retina adalah bagian belakang mata yang mengandung sel-sel saraf yang berfungsi sebagai penerjemah apa yang dilihat mata ke dalam otak. Sedangkan vitreous merupakan suatu gel transparan dan tidak berwarna yang mengisi ruang diantara lensa mata dan retina. Fungsi kedua organ ini sangat vital pada mata, karena jika salah satu dan kedua bagian ini mengalami kelainan, bisa menimbulkan gangguan penglihatan yang berat, bahkan kebutaan.

Retinopati diabetik (RD) merupakan penyakit retina yang merupakan penyebab kebutaan utama pada penderita diabetes melitus. Survei kesehatan di Amerika Serikat pada tahun 2005-2008 yang melibatkan penyandang DM menunjukkan 28.5% diantaranya didiagnosis RD dan 4.4% dengan RD yang terancam buta. Oleh karena itu, individu yang baru didiagnosis diabetes melitus penting untuk dilakukan pemeriksaan awal/screening pada matanya dan pemeriksaan berkala setiap tahun untuk mendeteksi ada tidaknya RD ini.

Selain retinopati diabetika, penyakit retina lain yang dianggap sebagai penyebab tertinggi ke-3 kebutaan oleh WHO, yaitu 8.7%, adalah age-related macular degeneration (AMD). Penyakit ini umumnya muncul diatas usia 50 tahun dan beresiko pada individu dengan faktor genetik (anggota keluarganya ada yang pernah mengalami), paparan sinar ultraviolet yang berlebihan, merokok, obesitas, dan tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, individu dengan usia diatas 40 tahun, sebaiknya memeriksakan matanya secara lengkap dan berkala ke dokter mata, terlebih lagi jika mempunyai faktor-faktor resiko diatas.

Lebih jauh lagi, penyakit retina yang paling sering menyebabkan kegawatdaruratan pada mata adalah ablasio retina. Keadaan ini umumnya berkaitan dengan rabun jauh dan ukuran panjang bola mata (semakin panjang, semakin beresiko). Kurang lebih 40-50% pasien ablasio retina mengalami rabun jauh/miopia. Selain itu terdapat faktor-faktor resiko lain, seperti: operasi pengangkatan katarak sebelumnya (30-40%), trauma mata secara langsung (10-20 %) dan penyakit lain, seperti DM tahap lanjut. Oleh karena itu, individu dengan faktor resiko diatas, sebaiknya memeriksakan kedua matanya minimal sekali setiap tahun dan memakai pengaman/pelindung mata untuk aktivitas yang beresiko.

Karena vitalnya fungsi retina dan vitreous, banyaknya penyakit terkait yang bisa menyebabkan gangguan penglihatan berat hingga kebutaan, serta masih belum banyak institusi kesehatan mata yang menyediakan pelayanan khusus vitreoretina, RSCM Kirana sebagai institusi pelayanan kesehatan mata yang terdepan menyediakan layanan unggulan vitreoretina. Layanan ini menyediakan fasilitas poliklinik untuk pemeriksaan diagnostik penyakit-penyakit retina, seperti: retinopati diabetika, AMD, ablasio retina, dll. Selain itu, tersedia pula tindakan medis (laser dan injeksi intravitreal) dan pembedahan yang ditangani oleh staf subspesialis vitreoretina yang ahli di bidangnya.

Layanan unggulan divisi vitreoretina meliputi:

–       Klinik vitreoretina: pemeriksaan mata, khususnya vitreoretina

–       Pemeriksaan diagnostik:

  • Foto fundus
  • Fundus fluorescein angiography (FFA)
  • Optical coherence tomography (OCT)
  • Ultrasonografi (USG) segmen posterior

–       Tindakan medik vitreoretina:

  • Fotokoagulasi laser retina
  • Injeksi intravitral

–       Bedah vitreoretina:

  • Retinal re-attachment surgery
  • Vitrektomi pars plana, termasuk dengan teknologi small-gauge
  • Laser endophotocoagulation
  • Cryosurgery
  • Pembedahan segmen posterior untuk trauma tembus mata, serta komplikasi pembedahan lain, seperti: endoftalmitis dan retained lens material